Sabtu, 05 April 2014

PERANAN PLANKTON DALAM PENGENDALIAN PEMANASAN GLOBAL

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Seiring dengan berjalannya waktu, kita semakin merasakan udara semakin buruk dan suhu semakin panas. Hal ini juga dirasakan oleh hewa, misalkan Panda Cina yang membutuhkan balok – balok es untuk dapat bertahan hidup. Manusia menggunakan ac dan kipas angin untuk menjaga kestabilan metabolisme dalam tubuh. Selain makin panasnya cuaca di sekitar kita, Anda tentu juga menyadari makin banyaknya bencana alam dan fenomena-fenomena alam yang cenderung semakin tidak terkendali belakangan ini. Mulai dari banjir, puting beliung, semburan gas, hingga curah hujan yang tidak menentu dari tahun ke tahun.
Sadarilah bahwa semua ini adalah tanda-tanda alam yang menunjukkan bahwa planet kita tercinta ini sedang mengalami proses kerusakan yang menuju pada kehancuran! Hal ini terkait langsung dengan isu global yang belakangan ini makin marak dibicarakan oleh masyarakat dunia yaitu Global Warming (Pemanasan Global).
Pemanasan global telah menjadi isu internasional sejak beberapa dekade yang lalu, walaupun mungkin sebenarnya masih terdapat ketidakpastian apakah benar akan terjadi pemanasan global. Sebagai akibat dari pemanasan global, memberikan dampak sangat besar baik terhadap iklim dunia, maupun kenaikan permukaan air laut. Dampak iklim global ini akan mengakibatkan perubahan tatanan hujan pada suatu wilayah; dimana sebagian wilayah hujannya akan bertambah dan di beberapa wilayah lainnya hujannya akan berkurang. Hal ini memberikan dampak turunan terhadap sistem pertanian dalam arti luas ( Tarsoen Waryono, 2008 ).

B.     RUANG LINGKUP
Makalah ini berisi mengenai pengertian dan jenis plankton, pengertian dan penyebab pemanasan global serta hubungan peranan plankton dalam pemanasan global. Makalah ini disusun supaya para pembaca bisa menambah wawasan serta memperluas ilmu pengetahuan yang ada mengenai plankton dan pemanasan global.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.    PEMANASAN GLOBAL
a.      Pengertian
Kenaikan suhu muka bumi global atau biasa dikenal dengan istilah pemanasan global (global warming) merupakan salah satu contoh dari apa yang disebut perubahan iklim. Dimana perubahan iklim secara umum didefinisikan sebagai perubahan variabel iklim yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu antara 50 – 100 tahun.Sedangkan variabel iklim yang dimaksud antara lain adalah temperatur/ suhu udara, kelembaban udara, tekanan atmosfer, kondisi awan, intensitas sinar matahari, curah hujan, dan angin ( Nawa Suwedi, 2005 ).

Gambar 2.1. Pemanasan Global

Pemanasan global  adalah  merupakan meningkatnya temperatur di planet bumi secara global, meliputi peningkatan temperatur atmosfir, temperatur laut dan temperatur daratan bumi yang menimbulkan dampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap masa depan bumi termasuk manusia dan makhluk hidup lain. Dampak yang ditimbulkan cenderung mengancam eksistensi bumi, dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya ( Ali Hanapiah, 2011 ).
b.      Penyebab Pemanasan Global
·      Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca (green house effect) merupakan suatu keadaan yang timbul akibat semakin banyaknya gas buang ke lapisan atmosfer yang memiliki sifat memantulkan panas yang ada ( Soedomo, 2001 ).
·      Pelepasan Gas Metan / CH4
Hasil penelitian yang dilakukan baru baru ini di daerah Siberia , Arktik menunjukan berjuta juta ton gas rumah kaca metan dilepaskan . Daratan beku itu mulai mencair dan karbon yang terkurung di dalamnya mulai bocor keluar dalam bentuk karbon dioksida dan metana, gas rumah kaca yang mudah terbakar dan 72 kali lebih kuat daripada CO2.  Adapun konsentrasi gas metan di beberapa tempat mencapai hingga 100 kali diatas normal.Pelepasan gas metan setelahnya mencapai 0.5 megaton per tahun. Kemungkinankenaikan gas metan di planet di pengaruhi oleh oleh dua factor yakni pelepasan gas metan dari dasar laut dan terlepasnya gas metan dari tanah beku yang mencair ( Twam Asi, 2010 ) .
·      Variasi Matahari
Variasi matahri adalah pengaruh penyinaran matahari pada suatu tempat berbeda dengan tempat yang lain.Ada beberapa penelitian menunjukkan bahwa kontribusi matahri dalam pemanasan global mungkin telah diabaikan. Dua ilmuwan dari Duke University mengemukakan bahwa matahari telah berkontribusi sekitar  45-50% terhadap rata rata suhu bumi dalam rentang periode tahun 1900 – 2000 , dan 25 – 35% rentang tahun 1980 – 2000 ( Sitimulyo, 2000 ).
·      Penebangan Hutan
Dengan adanya pembabatan hutan di dunia yang tiap tahun mencapai 30 juta hektar , jelas turut meperparah keadaan . Hutan yang selama ini menjadi pelindung bagi berbagai jenis satwa dari ancaman pemanasan global seharusnya dapat membantu 6 mengurangi pemanasan global .Tapi , dalam kenyataan di lapangan masalah tersebut sangat akut. Yakni hutan amazon , yang hamper 70% wilayahnya habis dibabati oleh manusia dalam  rangka produksi hasil daging. Sedangkan di Indonesia itu sendiri , masalah pembabatan hutan tersebut disebabkan karena pembukaan lahan baru yang bertujuan membuka perkebunan , keinginan memperoleh penghasilan dari penjualan kayu atau hasil hutan yang jika  dilakukan secara legal memerlukan baiya yang sangat tinggi. Hal tersebut dipengaruhi karena tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang masih sangat rendah ( Nugroho Wahyu, 2012 ).
·      Peternakan
Dari hasil penelitian di sebutkan bahwa total emisi gas rumah kaca negara Argentina 30% nya berasal dari hewan . Para peneliti menemukan bahwa sumber gas metan terbesar berasal dari sapid dan domba yang sengaja diternakan untuk diambil wol , Pada suatu perhitungan ditemukan bahwa metan memiliki kekuatan 72 kali lebih besar daripada CO2 selama lebih dari 20 tahun .Kenyatan ini sangat mengejutkan , karena pada dasarnya , jumlah ini melebihi dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Terlebih lagi sapi - sapi tersebut melepaskan 800 hingga 1000 liter gas setiap hari ( Soedomo, 2001 ).
·      Polusi Karbondioksida Dari Pembangkit Listrik Bahan Bakar Fosil
Ketergantungan kita yang semakin meningkat pada listrik dari pembangkit listrik bahan bakar fosil membuat semakin meningkatnya pelepasan gas karbondioksida sisa pembakaran ke atmosfer.
·      Penggunaan Pupuk Kimia Yang Berlebihan
Pada kurun waktu paruh terakhir abad ke-20, penggunaan pupuk kimia dunia untuk pertanian meningkat pesat. Kebanyakan pupuk kimia ini berbahan nitrogenoksida yang 300 kali lebih kuat dari karbondioksida sebagai perangkap panas, sehingga ikut memanaskan bumi. Akibat lainnya adalah pupuk kimia yang meresap masuk ke dalam tanah dapat mencemari sumber-sumber air minum kita.


B.     PLANKTON
a.      Pengertian Plankton
Plankton adalah mikroorganisme yang hidup melayang dalam air, dimana kemampuan renagnya terbatas, menyebabkan mikroorganisme tersebut mudah hanyut oleh gerakan atau arus air ( Bougius, 1976 ). Plankton adalah kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas dalam laut dan daya renangnya sangat lemah. Kemampuan berenang organism-organisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan air, hal ini berbeda dengan hewan laut lainnya yang demikian gerakan dan daya renangnya cukup kuat untuk melawan arus laut ( Nyabakken, 1992 ).

Gambar 2.2. Plankton
Plankton adalah suatu organism yang terpenting dalam ekosistem laut, kemudian dikatakan bahwa plankton merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombang-ambing oleh arus perairan laut ( Hutabarat dan Evans, 1988 ).

b.      Klasifikasi Plankton
·        Berdasarkan Ukuran
Menurut ukurannya, plankton dibagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu makroplankton (lebih besar dari 1 mm), mikroplankton (0,06 mm – 1 mm) dan nanoplankton (kurang dari 0,06 mm) meliputi berbagi jenis fitoplankton. Diperkirakan 70% dari semua fitoplankton di laut terdiri nanoplankton dan inilah yang memungkinkan terdapatnya zooplankton sebagai konsumer primer (Sachlan, 1972).
·         Berdasarkan siklus hidupnya
Berdasarkan siklus hidupnya, plankton terbagi dalam dua golongan yaitu holoplankton yang merupakan organisme akuatik dimana seluruh hidupnya bersifat sebagai plankton, golongan yang kedua yaitu meroplankton yang hanya sebahagiaan dari daur hidupnya bersifat plankton (Bougis, 1976; Nyabakken, 1992).
·         Berdasarkan keadaan biologis
Berdasarkan keadaan biologisnya, digolongkan plankton sebagai berikut : 
(a) Fitoplankton yang merupakan tumbuhan renik, 
(b) Zooplankton yang merupakan hewan-hewan yang umumnya renik ( Newel, 1963 ).

Minggu, 09 Maret 2014

Faktor Fisika Kimia Air

FISIKA
Kekeruhan
Kecerahan biasanya menunjukkan tingkat kejernihan aliran air atau kekeruhan aliran air yang diakibatkan oleh unsur-unsur muatan sedimen, baik yang bersifat mineral atau organic. Kekeruhan air dapat dianggap sebagai indicator kemampuan air dalam meloloskan cahaya yang jatuh diatas badan air. Semakin tinggi tingkat kekeruhan air tidak akan mudah ditembus oleh cahaya matahari, tetapi semakin rendah tingkat kekeruhan maka cahaya matahari akan dengan mudah menembus perairan.

Warna
Warna di perairan menunjukkan seberapa besar pencemaran yang telah terjadi pada suatu wilayah perairan. Hal ini disebabkan oleh kandungan TSS ( Total Suspended Solids ).

Bau dan Rasa
Bau dan rasa dipengaruhi oleh gas-gas yang terurai di perairan. Bau dan rasa juga dipengaruhi oleh kandungan zat-zat terlarut yang ada di perairan.

Kedalaman
Adalah ukuran dari dasar sungai ke permukaan sungai. Kedalam di setiap titik sungai berbeda, tergantung dari tipografi lahan.

Suhu
Adalah suhu perairan yang diukur pada saat pengambilan sample, atau pada tempat penelitian secara langsung.

Kecepatan Arus
Kecepatan aliran air pada suatu badan sungai. Kecepatan arus dapat diukur dengan menggunakan alat current meter.

KIMIA
pH (Derajat Keasaman)

Nilai derajat keasaman (pH) suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ion hidrogen dalam larutan. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5 (Effendi, 2003).

Sebagai pengukur sifat keasaman dan kebasaan air dinyatakan dengan nilai pH, yang didefinisikan sebagai logaritma dari pulang baliknya konsentrasi ion hidrogen dalam mol per liter. Air murni pada 24oC ditimbang berkenaan dengan ion-ion H+ dan ion-ion OH- masing-masing mempunyai kandungan 10-7 mol per liter. Dengan demikian pH air murni adalah 7. Air dengan pH di atas 7 bersifat asam. Nilai pH air dapat diukur dengan Potensiometer, yang mengukur potensi listrik yang dibangkitkan oleh ion-ion H+, atau dengan bahan celup penu juk warna, misalnya methyl orange atau phenolphtalein(Suripin,2004).

Derajat  keasaman  menunjukan  aktifitas  ion  hidrogen  dalam  larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hidrogen (mol/l) pada suhu tertentu atau pH = - log (H+). Konsentrasi pH mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jazad renik. Perairan yang asam cenderung menyebabkan kematian pada ikan. Hal ini disebabkan konsentrasi oksigen akan rendah sehingga, aktifitas pernapasan tinggi dan selera makan berkurang (Ghufron dan Kordi, 2005).

pH air laut umunya berkisar antara 7.6 – 8.3 (Brotowidjoyo, 1995) dan berpengaruh terhadap ikan (Bal and Rao, 1984). pH air laut relatif konstan karena adanya penyangga dari hasil keseimbangan karbon dioksida, asam karbonat, karbonat dan bikarbonat yang disebut buffer (Black, 1986 dalam Shephered and Bromage, 1998). Nilai pH, biasanya dipengaruhi oleh laju fotosintesa, buangan industri serta limbah rumah tangga (Sastrawijaya, 2000).

Dalam suatu perairan nilai pH berada pada kondisi alami, namun konsentrasi pH yang baik untuk ikan kakap putih berkisar antara 7.5- 8.5 (Deptan,1992), untuk ikan salmonidae kisaran pH antara 6.4 - 8.4 (Shephered and Bromage,1988), untuk kerang mutiara kisaran pH antara 7.9 - 8.2 (Winanto, 2004) dan untuk budidaya ikan kerapu kisaran pH antara 7.8 - 8,3 (SNI, 2000).

Kisaran pH dalam perairan alami,  sangat  dipengaruhi oleh konsentrasi karbon dioksida yang merupakan substansi asam. Fitoplankton dan vegetasi perairan lainya menyerap karbon dioksida dari perairan selama proses fotosintesa berlangsung sehingga pH cenderung meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari. Tetapi menurunya pH oleh karbondioksida tidak lebih dari 4.5 (Boyd,1982). Proses nitrifikasi oleh bakteri dapat mengurangi nilai pH perairan karena adanya konsumsi karbonat dan pelepasan ion hidrogen selama proses berlangsung (Soderberg, 1995).

Proses penguraian bahan organik menjadi garam mineral, seperti, amonia, nitrat dan fosfat berguna bagi fitoplankton dan tumbuhan air. Proses akan lebih cepat jika kisaran pH basa dan mantap (Afriyanto dan Liviawaty, 1991).

Menurut Baur dalam Barus (2004) organisme air dapat hidup dalam suatu perairan yang mempunyai pH netral dengan kisaran toleransi antara asam lemah sampai basa lemah. Effendi (2003) menyatakan bahwa pH dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan yaitu pH= 7 (netral), 7

Berdasarkan standar baku mutu air PP No.82 Tahun 2001 (kelas II ), pH yang baik untuk kegiatan budidaya ikan air tawar berkisar antara 6-9 . Kondisi perairan yang bersifat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organism karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolism dan respirasi. Disamping itu pH yang sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat terutama ion alumunium yang bersifat toksik semakin tinggi yang tentunya akan mengancam kehidupan organism air. Sedangkan pH yang tinggi akan menyebabkan keseimbangan antara ammonium dengan amoniak dalam air akan terganggu.

Menurut Connel (1995) bahwa kotoran organism air yang mengandung ammonia yang dapat meningkatkan derajat keasaman (pH) yakni menjadi basa. Kenaikan pH di atas netral akan meningkatkan konsentrasi amoniak yang juga bersifat sangat toksik bagi organism. 

Pescod (1973) menyatakan bahwa toleransi jasad perairan terhadap pH air bervariasi tergantung beberapa faktor antara lain suhu, kandungan oksigen terlarut, alkalinitas dan adanya kandungan berbagai anion dan kation. Dan menurut Kackereth et al (1989) dalam Effendi (2003) bahwa pH juga berkaitan erat dengan karbondioksida dan akalinitas.

Salinitas

Toleransi dari organism air terhadap kadar salinitas dapat dibedakan antara stenohalin yaitu organism yang mempunyai kisaran toleransi yang sempit terhadap fluktuasi salinitas dan euryhalin yang merupakan organism yang mempunyai toleransi yang luas (Barus, 2004).

Salinitas merupakan ciri khas perairan pantai atau laut yang membedakannya dengan air tawar. Berdasarkan perbedaan salinitas, dikenal biota yang bersifat stenohaline dan euryhaline. Biota yang mampu hidup pada kisaran yang sempit disebut sebagai biota bersifat stenohaline dan sebaliknya biota yang mampu hidup pada kisaran luas disebut sebagai biota euryhaline (Supriharyono, 2000). Keadaan salinitas akan mempengaruhi penyebaran organisme, baik secara vertikal maupun horizontal. 

Menurut Barnes (1980) pengaruh salinitas secara tidak langsung mengakibatkan adanya perubahan komposisi dalam suatu ekosistem. Menurut Gross (1972) menyatakan bahwa hewan benthos umumnya dapat mentoleransi salinitas berkisar antara 25 – 40 ‰. Pada kelas Polychaeta termasuk golongan biota yang mampu hidup pada kisaran salinitas yang luas. Spio dan Nereis mampu hidup pada kisaran salinitas antara 6 – 24 ppt (Burkovskiy dan Stolyarov, 1996 dalam Junardi, 2001). 

Capitella capitata terdapat melimpah dengan nilai kelimpahan 1296 ind./m² pada kondisi salinitas air 38 ppt (Alcantara dan Weiss, 1991). 

Menurut Budiman dan Dwiono (1986) bahwa gastropoda yang bersifat mobile mempunyai kemampuan untuk bergerak guna menghindari salinitas yang terlalu rendah, namun bivalvia yang bersifat sessile akan mengalami kematian jika pengaruh air tawar berlangsung lama. Selain itu reproduksi dari jenis-jenis gastropoda seperti Littorina scabra sangat dipengaruhi oleh salinitas.

Salinitas adalah konsentrasi ion yang terdapat diperairan. Salinitas menggambarkan padatan total di air setelah semua karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida digantikan dengan klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Effendi, 2003).

Salinitas   perairan   menggambarkan   kandungan   garam   dalam   suatu perairan. Garam yang dimaksud adalah berbagai ion yang terlarut dalam air termasuk garam dapur (NaCl). Pada umumnya salinitas disebabkan oleh 7 ion utama yaitu : natrium (Na), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), klorit (Cl),  sulfat  (SO4)  dan bikarbonat  (HCO3).  Salinitas dinyatakan dalam  satuan gram/kg atau promil (0/00) (Effendi, 2003). Salinitas air laut bebas mempunyai kisaran 30-36 ppt, Sedangkan daerah pantai mempunyai variasi salinitas yang lebih besar. Semua organisme dalam perairan dapat hidup pada perairan yang mempunyai perubahan salinitas kecil (Hutabarat dan Evans, 1995).

Toleransi terhadap salinitas tergantung pada umur stadium ikan. Salinitas berpengaruh terhadap  reproduksi,  distribusi,  lama  hidup  serta  orientasi  migrasi.  Variasi salinitas  pada  perairan  yang  jauh  dari  pantai akan  relatif  kecil  dibandingkan dengan variasi salinitas di dekat pantai, terutama jika pemasukan air air sungai. Perubahan salinitas tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku ikan atau distribusi ikan tetapi pada perubahan sifat kimia air laut. Ikan air  laut  mengatasi kekurangan air  dengan  mengkonsumsi air  laut sehingga kadar garam dalam cairan tubuh bertambah. Dalam mencegah terjadinya dehidrasi akibat proses ini kelebihan garam harus dibatasi dengan jalan mengekskresi klorida lebih banyak lewat insang dan ekskresi lewat urine yang isotonik  (Hoar,  1979). 

Ekosistem Sungai

Sungai merupakan suatu perairan terbuka yang memiliki arus, perbedaan gradien lingkungan, serta masih dipengaruhi daratan. Sungai memiliki beberapa ciri antara lain: memiliki arus, resident time (waktu tinggal air), organisme yang ada memiliki adaptasi biota khusus, substrat umumnya berupa batuan, kerikil, pasir dan lumpur, tidak terdapat stratifikasi suhu dan oksigen, serta sangat mudah mengalami pencemaran dan mudah pula menghilangkannya (Odum, 1996).

Terdapat tiga kondisi yang membedakan sungai dan kolam yaitu: (a) arus di lingkungan sungai menjadi pengontrol utama dan faktor bagi kehidupan organisme yang ada, (b) sungai memiliki hubungan tanah dan air yang relatif lebih luas, sehingga komponen jaring-jaring makanannya sebagian berasal dari luar dan lebih bervariasi, dan (c) sungai mengalami tekanan oksigen yang lebih seragam dengan sedikit atau bahkan tidak ada stratifikasi termal atau pun kimia (Odum, 1971). Secara ekologis menurut Odum (1996) sungai memiliki dua zona utama yaitu:

1. Zona air deras

Daerah yang dangkal dimana kecepatan arus cukup tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas, sehingga dasarnya padat. Zona ini dihuni oleh bentos yang beradaptasi khusus yang dapat melekat atau berpegang dengan kuat pada dasar yang padat dan oleh ikan yang kuat berenang.

2. Zona air tenang

Bagian air yang dalam kecepatan arus sudah berkurang, lumpur dan materi lepas cendrung mengendap di dasar, sehingga dasarnya lunak, tidak sesuai untuk bentos permukaan tetapi cocok untuk penggali nekton dan pada beberapa plankton. Pada perairan sungai, biasanya terjadi percampuran masa air secara menyeluruh dan tidak terbentuk stratifikasi vertikal kolom air seperti pada perairan leuntik. Kecepatan arus, erosi, dan sedimentasi merupakan fenomena yang biasa terjadi di sungai sehingga kehidupan flora dan fauna sangat dipengaruhi oleh ketiga variable tersebut. 
Menurut Lablink (2001) bahwa sunga memiliki proses dimana air hujan yang jatuh ke bumi, sebagian menguap kembali menjadi air di udara, sebagian masuk ke dalam tanah, sebagian lagi mengalir di permukaan. Aliran air di permukaan ini kemudian akan berkumpul mengalir ke tempat yang lebih rendah dan membentuk sungai yang kemudian mengalir ke laut. 
Menurut Davis (1980) in Lablink (2001) bahwa sungai dan lembahnya ibarat organisme hidup. Sungai berubah dari waktu ke waktu, mengalami masa muda, dewasa, dan masa tua, yang mana siklus kehidupan sungai dimulai ketika tanah baru muncul diatas permukaan laut. Hujan kemudian mengikisnya dan membuat parit, kemudian parit-parit itu bertemu sesamanya dan membentuk sungai. 
Danau menampung air pada daerah yang cekung, tapi kemudian hilang sebagai sungai dangkal. Kemudian memperdalam salurannya dan mengiris ke dasarnya membentuk sisi yang curam, lembah bentuk V. Anak-anak sungai kemudian tumbuh dari sungai utamanya seperti cabang tumbuh dari pohon. Semakin tua sungai, lembahnya semakin dalam dan anak-anak sungainya semakin panjang. Berikut adalah gambar perubahan penampang sungai (Lablink, 2001).

Gambar 2. Perubahan penampang sungai (Lablink, 2001)

.
                                           
1. Sungai masih bayi : awal                            2. Sungai muda: anak sungai bertambah
terbentuknya sungai, sempit
dan curam


                                

3. Sungai dewasa daerah                         4. Sungai sudah tua sekali
alirannya semakin melebar
dan berkelok


Secara alami, fungsi sungai adalah sebagai penyalur masa hujan yang jatuh di daratan dan mengalir ke laut berdasarkan prinsip garvitasi. Karenanya, bila alur alirannya terganggu (tersumbat), masa airnya akan meluap dan akibatnya akan terjadi banjir.Keadaan sungai di daerah hulu yang terletak di dataran tinggi merupakan daerah rawan erosi dan keadaan sungai di daerah hilir yang terletak didataran rendah merupakan daerah rawan deposisi, sehingga antara kedua daerah tersebut (hulu dan hilir) keadaan perairannya, terutama kualitas airnya berbeda sekali (Payne, 1986).


Ekosistem Danau

Danau

Secara hidrologis sumber atau suplai air danau-danau oxbow dan limpasan banjir lainnya adalah umumnya berasal dari sungai utama.  Memang ada sebagian danau yang sum- ber airnya berasal dari dalam tanah. Sehingga danau-danau tersebut ekologinya sangat di- pengaruhi oleh tingkat konektivitas atau keterbukaannya dengan sungai.  Ukuran penyabaran danau-danau tersebut juga sangat mempengaruhi ekosistemnya.   Kedalaman danau-danau tersebu bervariasi antara 3 – 14 m.  Fluktuasi muka air danau di DAS Kahayan antara mu- sim kemarau dan musim penghujan bisa mencapai 6 m (Aldianor, 2006).


Menurut Hutchinson & Loffler, 1956 dalam Barus, 2004, air danau dapat dibedakan berdasarkan pola pencampuran/sirkulasi. Pencampuran yang terjadi karena adanya beda bobot air pada besaran temperatur yang berbeda. Air dengan bobot yang lebih ringan akan berada di bagian permukaan sedangkan air dengan bobot yang lebih berat akan berada di bagian yang lebih bawah.Pengelompokan danau berdasarkan pola pencampuran/sirkulasi airnya adalah sebagai berikut.
a.         Amiktis
Amiktis yaitu danau yang terdapat di daerah kutub, terutama di antartik dan sebagian kecil di arktik (Greenland) yang secara permanen tertutup oleh salju.

b.        Monomiktis dingin
Monomiktis dingin yaitu danau yang terdapat di daerah kutub dan sub kutub yang mengalami sirkulasi/ pencampuran secara sempurna hanya pada musim panas, sementara pada musim yang lain mengalami stagnasi winter dengan penutupan lapisan salju pada permukaan.

c.         Dimiktis
Dimiktis yaitu danau-danau yang terdapat di daerah temperata di bagian utara dari Amerika Utara yang mengalami sirkulasi sempurna pada saat musim gugur dan musim semi.

d.        Monomiktis panas
Monomiktis panas yaitu danau yang terdapat di daerah subtropis yang mengalami sirkulasi hanya pada musim dingin dan apabila permukaan air cukup mengalami pendinginan misalnya Bodensee yang terdapat di Jerman.

e.         Oligomiktis
Oligomiktis yaitu danau di daerah tropis yang sangat jarang mengalami sirkulasi yang sempurna.

f.         Polimiktis panas
Polimiktis panas yaitu danau di daerah tropis yang mengalami sirkulasi sempurna apabila terjadi penurunan temperatur yang sangat drastis.

g.        Polimiktis dingin
Polimiktis dingin yaitu danau-danau tropis yang terdapat di pegunungan yang tinggi dan selalu mengalami sirkulasi sempurna, umumnya adalah danau-danau yang terdapat pada ketinggian sekitar 3000 meter dpl.

Asal mula danau bermacam-macam, ada yang berasal dari patahan lempeng bumi, gejala vulkan, buatan manusia, dan masih banyak yang lain-lainnya. Oleh karena itu, selain dibedakan berdasarkan pola pencampurannya seperti yang telah diuraikan di depan, danau juga dapat digolongkan berdasarkan proses terjadinya.

Penggolongan tersebut adalah sebagai berikut.
a.         Danau Tektonik
Danau ini terjadi akibat adanya aktivitas/peristiwa tektonik yang mengakibatkan permukaan tanah pada lapisan kulit bumi turun ke bawah membentuk cekung dan akhirnya terisi air. Contohnya yaitu Danau Singkarak, Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat.

b.        Danau Vulkanik
Danau ini terbentuk karena adanya aktivitas gunung berapi. Danau ini biasanya terdapat pada bekas kawah gunung berapi. Contohnya yaitu Danau Batur di Bali.

c.         Danau Tektovulkanik
Danau ini terbentuk karena adanya akivitas tektonisme dan vulkanisme.akibat dua aktivitas ini maka terbentuklah danau tektovulkanik. Contohnya adalah Danau Toba di Sumatera Utara.

d.        Danau Bendungan Alami
Danau ini dapat terbentuk karena aliran lava saat erupsi terjadi yang membendung aliran air sungai. Contohnya adalah Danau Pengilon, pegunungan Dieng, Jawa Tengah.

e.         Danau Karst
Danau ini dijumpai di daerah dominan batu kapur. Danau ini terbentuk akibat pelarutan tanah kapur. Danau ini banyak di temukan di Pegunungan Seribu, Yogyakarta.

f.         Danau Glasial
Danau ini akibat mencairnya es atau keringnya daerah es yang kemudian terisi air.

g.        Danau Buatan
Danau ini dibuat oleh manusia. Danau buatan ini disebut waduk. Contohnya adalah Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri Jateng.

Ekosistem Perairan

Perairan

Perairan disebut danau apabila perairan itu dalam dengan tepi yang umumnya curam. Air danau biasanya bersifat jernih dan keberadaan tumbuhan air terbatas hanya pada daerah pinggir saja. Berdasarkan pada proses terjadinya danau dikenal dengan danau tektonik (terjadi akibat gempa) dan danau vulkanik (akibat aktivitas gunung berapi). Danau tektonik umumnya sangat dalam sedangkan danau vulkanik umumnya memiliki sumber air atau gas panas (Barus, 2004).

Sedangkan ditinjau dari sudut tata air, waduk dan danau berperan sebagai reservoir yang dapat dimanfaatkan airnya untuk keperluan sistem irigasi dan perikanan, sebagai sumber air baku, sebagai tangkapan air untuk pengendalian banjir, serta penyuplai air tanah. Untuk menjamin fungsi waduk dan danau yang tetap optimal dan berkelanjutan, kegiatan pengelolaan harus ditekankan pada upaya pengamanan waduk dan danau juga daerah di sekitarnya. Adanya rambu-rambu yang nyata, pada dasarnya merupakan salah satu faktor yang dapat menghindarkan maupun mengantisipasi permasalahan-permasalahan pemanfaatan waduk dan danau serta daerah sekitarnya yang tidak memperhatikan fungsi ekologis dari waduk dan danau tersebut (Kutarga, 2008).

Ekosistem danau dapat dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu Benthal merupakan zona substrat dasar yang dibagi menjadi zona lithoral dan zona profundal. Litoral merupakan bagian dari zona benthal yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari, sedangkan zona profundal merupakan bagian dari zona benthal di bagian perairan yang dalam dan tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Zona perairan bebas sampai ke wilayah tepi merupakan habitat nekton dan plankton yang disebut zona pelagial. Selanjutnya dikenal zona pleustal, yaitu zona pada permukaan perairan yang merupakan habitat bagi kelompok neuston dan pleuston (Barus, 2004).

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang pesat di sekitar danau menimbulkan permasalahan bagi lingkungan  danau, berupa sedimentasi oleh karena pemanfaatan hutan dan berbagai penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai. Perubahan kualitas air mengakibatkan peningkatan hara (eutrofikasi) oleh aktifitas pemupukan lahan pertanian dan pakan yang bersumber dari jaring apung. Peningkatan nutrient tersebut menyebabkan meningkatnya fitoplankton dan gulma bertumbuh pesat. Eutrofikasi dan perubahan kualitas air akan terus terjadi dan meluas sepanjang tahun bila tidak dilakukan pengelolaan / pemulihan (Manu, 2010).

Perairan  pedalaman  (inland  water)  diistilahkan  bagi  semua  badan  air  yang berada di daratan. Ilmu yang mempelajari masalah perairan pedalaman atau perairan umum disebut Limnologi.  Bentuk-bentuk perairan umum tawar alami yang telah dikenal luas ialah sungai (river atau stream), rawa (swamp) dan danau (lake). Selain alami perairan umum juga dapat dibentuk oleh manusia misalnya waduk (resevoir) dari sungai (waduk sunga) maupun dari rawa (waduk rawa).     Air perairan pedalaman umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin; dimana air asin di daratan disebut atha- lassic saline water  (Aldianor, 2006).

Ekosistem air yang terdapat di daratan (inland water) secara umum dibagi atas dua, yaitu perairan lentik (lentik water), atau juga disebut sebagai perairan tenang, misalnya danau, rawa, waduk, situ, telaga dan sebagainya, dan perairan lotik (lotic water), disebut juga sebagai perairan berarus deras, misalnya sungai, kali, kanal, parit dan sebagainya. Perbedaan utama antara perairan lentik dan lotik adalah dalam kecepatan arus air. Perairan lentik mempunyai kecepatan arus yang lambat serta terjadi akumulasi massa air dalam periode waktu yang lama, sementara perairan lotik umumnya mempunyai kecepatan arus yang tinggi, disertai perpindahan massa air yang berlangsung degan cepat (Barus, 2004).

Air menutupi lebih dari 70% permukaan bumi. Sifat-sifat fisika dan kimia air sangat penting dalam ekologi. Air merupakan media pengangkutan yang ideal bagi molekul-molekul melalui tubuh organisme, karena air merupakan pelarut yang kuat tanpa menjadi sangat aktif secara kimia. Tegangan permukaan air yang tinggi menyebabkan pergerakan air melewati organisme, dan juga bertanggung jawab bagi kenaikkan tinggi air tanah. Rapatan air yang nisbi tinggi tidak hanya mendukung bobot tubuh secara sebagian maupun seutuhnya, namun juga memungkinkan hadirnya organisme tersuspensi ( Satino, 2013).

Habitat-habitat perairan dibagi dalam tiga kategori utama, yaitu sistem air tawar, estuarin dan lautan. Walaupun habitat air tawar menempati sebagian kecil dari permukaan bumi  bila  dibandingkan dengan habitat  lainnya,  namun  mempunyai arti  yang  sangat penting.    Sebagai  pelarut  yang  baik,  air mengandung zat-zat  kimia  yang  terlarut  di dalamnya. Penggunaan senyawa ini dalam aktivitas metabolik tumbuhan dan hewan perairan menyebabkan perubuhan susunan kimiawi air, dengan demikian pengetahuan mengenai keadaan ini penting untuk memahami hubungan yang rumit antara komponen – komponen biotik dan anabiotik ( Satino, 2013).

Laut dan Ikan Kami, Indonesia

Laut Indonesia

Luas laut Indonesia yang mencapai 5,8 juta km2, terdiri dari 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan pedalaman dan kepulauan, 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), serta terdiri lebih dari 17.500 pulau, menyimpan kekayaan yang luar biasa. Jika dikelola dengan baik, potensi kelautan Indonesia diperkirakan dapat memberikan penghasilan lebih dari 100 miliar dolar AS per tahun.

Dasar laut Indonesia sangat kompleks dan tidak ada negara lain yang mempunyai topografi dasar laut begitu beragam seperti Indonesia.   Hampir segala bentuk topografi dasar laut dapat dijumpai, seperti paparan dangkal, terumbu karang, lereng curam maupun landai, gunung api bawah laut, palung laut dalam, basin atau pasu yang terkurung dan lain sebagainya.

Karakteristik ini menjadikan Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang 
(Sharif, 2013).

Potensi Perikanan Indonesia

Dijelaskan, disisi lain dalam beberapa tahun terakhir, produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan produksi perikanan tangkap, Produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan cukup pesat, yaitu dari 47,3 juta ton menjadi 62,7 juta ton. Potensi perikanan budidaya ini akan semakin besar, apabila memasukan potensi budidaya air tawar seperti kolam (541.100 ha), budidaya diperairan umum (158.125 ha) dan mina-padi (1,54 juta ha). 

Disamping itu, potensi perikanan budidaya payau (tambak) mencapai 2,96 juta hektar dan baru dimanfaatkan seluas 682.857 hektar (23,04%) serta potensi budidaya laut yang mencapai luasan 12,55 juta hektar dengan tingkat pemanfaatan yang relatif masih rendah, yaitu sekitar 117.649 hektar atau 0,94 persen. “Produksi perikanan memang tumbuh sangat positif. 

Tercatat, ekspor hasil perikanan telah mengarah pada produksi bernilai tambah, dengan pertumbuhan pada periode 2011 – 2012 sebesar 11,62 persen. Sedangkan nilai impor periode yang sama mengalami penurunan sebesar 15,43 persen.  Dengan demikian, neraca perdagangan perikanan pada tahun 2012 mengalami surplus sebesar US$ 3,52 milyar (Sharif, 2013).

Minggu, 24 Juni 2012

A Trip To Sidoarjo

Sulit bagi saya untuk mencari sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan para korban lumpur lapindo, mungkin kata paling sederhana yang saya dapat adalah "Air Mata Lumpur" . Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan para korban Lumpur Panas Lapindo. Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 20 Juni 2012 saya berkesempatan untuk melihat bagaimana kondisi di sana, kebetulan saya sedang libur sekolah.Saya menjadi tong sampah bagi para korban yang saya wawancarai, menjadi tong sampah tempat mereka mencurahkan isi hatinya. Rumah yang dulunya tempat mereka berlindung, tempat dimana berkumpul bercanda bersama keluarga telah tenggelam. Tenggelam bersama harapan hidup bahagia mereka. Kualitas kehidupan warga kian menurun. Ratusan anak-anak putus sekolah. Sehari-hari warga harus menghirup gas beracun yang terbawa bersama semburan lumpur. Wilayah hidup mereka amat berbahaya dengan ancaman gas liar mudah terbakar.

EMAS. Sebuah kata yang membuat saya hampir mati terkena serangan jantung. Ya, pada saat perjalanan ke bandara Juanda Int. Airport saya berbincang dengan sopir taksi yang saya tumpangi dimana keluarganya banyak yang menjadi korban... Dia menceritakan kesedihannya dan kegalauannya... dan sampai dia mengucapkan kata EMAS... saya bertanya tanya siapa yang menyebarkan isu kandungan emas di lumpur lapindo... saya kaget mendengar jawabannya... ternyata isu itu datangnya dari pemerintah... Benarkan Lumpur Lapindo Mengandung Mineral Emas? Atau hanya akal bulus? agar masyarakat tidak demo menuntut ganti rugi?
Powered By Blogger